Kisah nyata dari komunitas nelayan, hutan, dan pesisir Sulawesi yang kami dampingi.
“Dengan alat tangkap tradisional dan tanpa alat bantu menyelam, mereka menghadapi risiko cuaca buruk dan ketidakpastian pendapatan.”
“Pelanggaran di dalam kawasan area tangkap masih sering terjadi,” kata Ummul Uffia, pendamping lapangan Japesda di Desa Torosiaje Laut.
“Tahun 2014, di depan rumah kami masih dengar suaranya, duduk di teras rumah masih melihat rangkong terbang, sekarang harus masuk dalam kawasan hutan, ketika berada di hutan pun tidak tidak seperti dulu,” kata Rahman Supu (50).
Kisah nyata dari komunitas nelayan, hutan, dan pesisir Sulawesi.