Di perairan Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, sekelompok perempuan Bajo menjalani rutinitas yang bagi kebanyakan orang terdengar luar biasa. Setiap pagi sebelum fajar, mereka sudah bersiap dengan perahu kecil mereka, mengarungi ombak menuju spot-spot penyelaman gurita.
Nursia Nuntung, salah satu dari mereka, sudah menyelam sejak usia 12 tahun. Kini di usia 40-an, ia masih turun ke laut hampir setiap hari. "Ini bukan pekerjaan yang kami pilih," katanya, "ini warisan dari ibu kami, dan ibu dari ibu kami."
Gurita hasil tangkapan dijual ke pengepul lokal dengan harga Rp 40.000–60.000 per kilogram. Pada musim baik, seorang penyelam bisa mendapat 3–5 kg per hari. Tapi musim tidak selalu bersahabat — ombak besar, arus kuat, dan cuaca buruk sering memaksa mereka pulang dengan tangan kosong.
JAPESDA mendampingi komunitas ini sejak 2019 melalui program pengelolaan zona tangkap berkelanjutan. Sistem buka-tutup yang diterapkan — menutup area penangkapan selama 3–4 bulan untuk memberi gurita waktu berkembang biak — telah menunjukkan hasil nyata.
"Sejak ada aturan buka-tutup, gurita lebih besar dan lebih banyak," kata Nursia. "Dulu kami harus menyelam jauh, sekarang lebih dekat pun sudah dapat."
Kisah Nursia dan rekan-rekannya adalah bukti bahwa perempuan pesisir bukan hanya penerima manfaat pembangunan — mereka adalah agen perubahan yang sesungguhnya.
English Summary
This article tells the story of women octopus divers in Indonesia's Togean Islands who brave rough seas daily to support their families. Through JAPESDA's sustainable fisheries program, including periodic fishing closures, octopus populations have rebounded, improving livelihoods for the entire community.
Komentar Pembaca